Pages

Sabtu, 05 Februari 2011

Duta Allah (Kutipan Renungan Manna Sorgawi)



                Sebagai seorang guru Sekolah Dasar, saya mencoba untuk mendidik dan membangun anak-anak yang Tuhan percayakan untuk saya bimbing. Ada seorang anak yang tidak begitu saya sukai karena cara berpakaiannya yang tidak rapi dan rambutnya yang jarang disisir. Sejak kelas 1 sampai kelas 4 saya selalu membuat catatan khusus mengenai kekurangannya.

Kelas 1: Tugas dan kelakuannya baik, namun keadaan keluarganya kurang baik.
Kelas 2: Ibunya sakit keras. Tak ada yang membantunya mengerjakan tugas sekolahnya.
Kelas 3: Ibunya meninggal dunia. Ia lambat dalam belajar.
Kelas 4: Ia lambat, tapi kelakuannya baik. Ayahnya tidak mempedulikan dia.

                Suatu hari ia memberikan parfum yang isinya sudah tinggal sedikit dan sebuah gelang yang setengah dari matanya sudah hilang. Untuk menyenangkan hatinya, saya langsung memakai gelang itu dan menyemprotkan parfum pemberiannya ke baju saya. Kemudian saya berkata kepada seisi kelas bahwa pemberiannya amat indah dan harum. Setelah bel pulang sekolah berbunyi ia mendekati saya dan berkata, “Bu, harum Ibu seharum Mamaku dan gelang itu juga sangat cocok di tangan Ibu. Aku senang karena Ibu menyukai pemberianku.” Saat itu saya minta ampun kepada Tuhan karena selama ini telah memandang rendah kepadanya. Meskipun tahun berikutnya saya tidak menjadi wali kelasnya lagi, tapi saya terbeban untuk membantunya dalam memahami pelajaran-pelajarannya dan ia pun mengalami kemajuan.
                Setelah tamat dari SD, saya lama tidak mendengar kabar darinya. Namun tiga tahun kemudian saya menerima sepucuk surat darinya yang isinya berbunyi:
“Bu, aku ingin agar engkau menjadi orang pertama yang mengetahui bahwa aku sudah lulus SMP dan meraih juara kedua di kelasku.”
Tiga tahun kemudian datang lagi sepucuk surat singkatnya yang berbunyi:
“Bu, aku sudah lulus SMA dan menjadi juara pertama di kelasku. Aku ingin Ibu menjadi orang pertama yang mengetahuinya. Sekarang aku belajar di universitas dengan mendapat beasiswa. Belajar di universitas ini tidak mudah Bu, tapi aku menyukainya. Doakan aku Bu.”
Lama sekali saya tidak pernah lagi menerima suratnya setelah itu, namun suatu hari, saat saya sudah memasuki usia emas saya, datang lagi surat darinya yang tidak pernah saya duga.
“Bu, hari ini aku resmi menyandang gelar doktor. Aku ingin Ibu menjadi orang pertama yang mengetahui bahwa bulan depan, tepatnya tanggal 27, aku akan menikah. Aku ingin agar Ibu datang dan berdiri sebagai orang tuaku. Ibu adalah satu-satunya keluargaku, karena papaku sudah meninggal setahun yang lalu.”
                Saya benar-benar bersyukur karena Tuhan telah menjadikan saya sebagai duta kasih-Nya pada anak itu, bahkan hingga ia dewasa.

0 komentar:

Posting Komentar