Kali ini pun, seruan yang sama yang sejak tadi diserukannya kembali bergema di telingaku. Sejak awal ia menghujaniku dengan kata-kata kejamnya hingga jam menunjukkan pukul 12 di malam yang gelap ini, selama itulah aku terdiam, seolah bisu. Karena memang tidak ada lagi kekuatan yang ada padaku untuk berbicara, baik itu untuk menanggapi ataupun menyanggah perkataannya yang menyakitkan itu.
Aku merasa malu, bodoh, dungu, dan bahkan jijik terhadap diriku sendiri. Aku, Onesimus, seorang yang tadinya memiliki kredibilitas kerja yang baik di rumah tuanku, kini terduduk bisu di kursi utama ruangan kepala penjara. Empat jam sudah aku berada di ruangan mencekam ini, belum bisa aku beranjak kemana-mana karena yang kudengar tadi, ada berkas-berkas kasusku yang belum dilengkapi. Aku sama sekali tidak betah duduk di tempat ini. Ruangan yang kurang lebih hanya berukuran dua kali tiga meter ini terkesan suram, tanpa penerangan yang memadai. Hanya ada sebuah meja kayu berwarna coklat tua dengan dua kursi, satu untuk kepala penjara, yang sehari-harinya memang bekerja di ruangan ini, dan satu lagi untuk manusia-manusia yang nasibnya sama seperti nasibku sekarang, duduk di ruangan ini karena terbukti melakukan kesalahan. Di sudut kiri ruangan, terdapat lemari penyimpanan berwarna hitam, yang juga terlihat sudah amat tua. Namun, lemari itu tetap kokoh menempel di tembok yang kusam itu sekalipun usianya sudah cukup tua. Berbeda denganku yang masih terbilang muda, namun kini tak berdaya menghadapi pria yang sedari tadi menghakimiku seolah ialah manusia paling suci di dunia.
Kalau boleh jujur, akupun malu. Malu sekali. Mengapa bisa-bisanya terbesit di otakku, dan juga disinkronkan oleh gerakan tubuhku, untuk melakukan perbuatan tercela itu. Aku sebenarnya bingung… ketika aku sedang merapikan rumah Tuan Filemon, majikanku yang kaya raya itu, aku dipanggil oleh salah satu pelayan dapur. Katanya ada telepon untukku. Dan ketika kuterima telepon itu, langsung terdengar olehku suara tangis sesegukan dari penelepon di seberang sana . Suara itu amat sangat kukenal, tak salah lagi, itulah suara wanita yang setiap hari selalu kutemui. Itu suara tangisan istriku. Ternyata ia menelepon untuk mengadukan kepadaku, kalau anak kami sekarang sekarat, dan telah dilarikan ke rumah sakit. Namun permasalahannya, kami perlu biaya yang harus diserahkan saat itu juga, tidak bisa ditunda besok atau lusa.
Seketika itu sendi-sendiku terasa lemas, aku tak tahu harus melakukan apa. Otakku terus berputar, apa yang harus kulakukan. Aku tak mungkin membiarkan putraku satu-satunya berada dalam keadaan tersiksa di rumah sakit seperti itu, namun aku juga tidak punya uang untuk melakukan tindak medis padanya. Aku bingung, aku takut, bahkan sampai terbayang olehku, akan betapa bersalahnya aku apabila anakku terlambat ditangani hanya karena bapaknya yang miskin ini tidak mampu menyediakan biaya untuk pengobatannya.
Kulihat sekelilingku sesaat setelah aku mengembalikan telepon itu kepada pelayan dapur tadi. Aku terkesiap melihat laci yang ada di meja kerja Tuan Filemon terbuka. Setelah memastikan tidak ada orang selain diriku. Aku memberanikan diri mengendap maju dan membuka laci itu perlahan-lahan. Isinya tidak terlalu menarik untukku, hanyalah seperangkat alat kerja pribadinya. Namun, aku dapat menangkap sesuatu menyembul di bawah tumpukan perkakas itu. Ternyata itu adalah sebuah kotak usang berwarna dasar merah marun, dengan ornamen kertas perca berwarna emas berbentuk hati di tengahnya. Persis di tengah bentuk hati yang manis itu, terdapat sebuah ukiran nama yang sudah tidak dapat terbaca jelas lagi. Setengah gugup namun juga penasaran, kubuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah giwang emas yang kelihatannya sudah cukup tua, namun ketika kupegang, berat sekali! Aku rasa ini emas asli yang harganya cukup mahal. Kupandangi giwang itu takjub, seraya berikir kapan kira-kira aku bisa memiliki barang seperti ini. Tiba-tiba terngiang olehku suara tangisan dari istriku di telepon barusan. Dadaku bergejolak. Anakku butuh uang. Uang dapat kuperoleh dengan cepat apabila aku menjual giwang ini. Giwang ini bisa kuambil sekarang juga, kemudian dalam beberapa menit uang untuk pengobata anakku dapat kukantongi. Cemerlang. Sempurna. Namun hati kecilku terus mengusikku. Ini bukan milikku. Ini milik Tuan Filemon. Kalau kuambil dan kujual berarti itu namanya aku mencuri. Padahal selama ini Tuan Filemon amat baik kepadaku. Aku harus bagaimana…?? Sejenak aku terdiam. Detik berikutnya aku mendesah. Anakku jauh lebih penting dari Tuan Filemon. Tapi…
Ah, sudahlah, batinku. Kalaupun kuambil sekarang, semua demi anakku. Nanti bisa kubicarakan dengan Tuan Filemon tentang cara penggantian giwang ini. Tuan Filemon pasti tak akan marah. Toh yang kuambil hanya satu pasang giwang, dari sekian banyak harta miliknya di rumah ini. Tentulah ia tidak akan marah, apalagi ia orang yang taat beribadah di gerejanya. Sesegera mungkin kupindahkan giwang itu ke saku bajuku. Baru hendak kututup kotak tua itu, tiba-tiba kudengar ada suara berat meneriakkan namaku.
“Onesimus!”
Aku menengok dan betapa terkejutnya aku mendapati tuanku berdiri dengan wajah marah di belakangku.
“Apa yang kau lakukan?! Berani-beraninya kau, pengkhianat!”
Ahhhh, betapa tololnya aku!
Aku tersentak dari lamunanku itu dan segera aku menatap kembali sekelilingku. Masih sama seperti tadi, ruangan kepala penjara yang sudah menjadi begitu memuakkan bagiku. Sepertinya baru saja seorang sipir memanggilku, terbukti dengan keberadaan dua ajudan berbadan besar yang kini menggenggam erat tanganku dan menarik paksa aku untuk berjalan ke sebuah lorong yang tidak kukenal sebelumnya.
“Disini tempatmu!” seru sipir itu lantang seraya menghempaskan tubuhku kasar ke sebuah ruagan yang sempit dan gelap. Seketika sipir itu membalikkan badannya, mengunci pintu ruangan yang disebut sel itu. Suara pintu sel yang bergemerincing keras itu seolah menertawakan aku yang tengah meringis kesakitan.
Sesaat setelah aku merasa cukup kuat untuk bangkit, akupun membalikkan tubuhku. Kulihat di belakangku ada seorang pria yang cukup tua, wajahnya tegas namun terlihat lembut dan ramah. Ia terlihat sedang serius membaca gulungan-gulungan yang entah apa itu, aku tidak tahu, mungkin itu gulungan Kitab atau apalah, namun kelihatan ia sangat menikmati dan menghargai gulungan yang ia baca itu. Ia menyapaku lembut, “siapa namamu, anak muda?”
“O..O.. Onesimus,” jawabku pelan.
Bapak itu tersenyum sejenak, kemudian kembali menekuni gulungan yang sedari tadi ia baca. Sesekali ia menatapku, namun beberapa detik berikutnya, ia pasti kembali menekuni bacaannya. Dari sosoknya, aku dapat menangkap kalau bapak ini apstilah orang baik. Namun, mengapa ia berada di penjara?
Sudahlah, aku tidak perlu peduli banyak tentangnya. Saat ini, aku merasa tiada lagi harapan kepada hari-hari yang lebih cerah. Aku merasa sepertinya inilah akhir hidupku. Sepertinya malam-malamku akan senantiasa kelabu…

0 komentar:
Posting Komentar