Saudaraku, apakah kalian semua percaya hoki?
Misalnya begini, kita menemukan uang di jalan, tergeletak, tidak ada yang punya. Atau ketika kita mau ulangan, kita tidak belajar, lalu dalam memilih pilihan berganda, kita cap-cip-cup, dan ternyata hasilnya bagus. Pasti orang-orang bilang kalau kita lagi hoki.
Dari zaman kakek nenek kita, kita selalu dikasih tahu kalau setiap orang pasti punya keberuntungan atau hoki-nya masing-masing. Tapi, apa iya kalau seseorang tidak pernah merasakan “hoki” yang seperti itu dalam hidupnya, lantas ia disebut tidak beruntung alias sial seumur hidup? Tidak mau begitu, bukan?
Waktu kecil saya percaya soal hoki. Tapi setelah saya semakin besar dan dapat berfikir secara logis, saya jadi menghasilkan argumen dan persepsi sendiri soal “hoki”. Seiring waktu, saya juga semakin banyak melihat dan belajar dari pengalaman hidup, saya sudah mulai menolak menyebut “hoki-hokian”. Saya percaya, memang akan ada hal-hal baik dalam hidup, dan itu—bagi saya—bukan hoki, melainkan berkat!
Berkat sama hoki banyak miripnya. Sama-sama datang tiba-tiba, dengan cara yang tidak pernah kita duga-duga. Tiba-tiba ada saja, dan itu spektakuler! Kita suka kalau berbicara berkat. Kita suka kalau mendengar khotbah atau membaca buku yang bercerita tentang teologi kemakmuran. Sepertinya ada jaminan yang wah, gitu. Tapi berkat berbeda, jauh lebih daripada itu. Berkat berbicara erat tentang hubungan pribadi dengan Tuhan.
Sekarang coba kita lihat Habel. Dia hidupnya benar dan taat. Memberi persembahan yang berkenan di hadapan Tuhan. Tapi coba kita lihat akhir hidupnya. Kalau Henokh, Abraham, Musa, Yusuf, dan hero-hero Alkitab yang lain, mengalami happy ending di akhir hidupnya, Habel malah mati dibunuh. Tapi apa berarti dia tidak diberkati? Bukan begitu juga, kan?
Saya mencoba melihat pada satu titik perbedaan antara berkat dengan hoki. Hoki itu adakalanya datang, adakalanya tidak datang, adakalanya pergi. Tapi kalau berkat, selalu datang dan tidak pernah berhenti. Tidak pernah habis. Unstoppable. Bayangkan, kalau ada orang yang kita kenal kalah lotre, misalnya. Pasti dibilang dia lagi tidak hoki. Tapi tidak mungkin dong, kalo kita tidak punya uang, kelaparan sampai tidak makan (ini sih lebai, tapi yah asumsikan aja begitu), masa dibilang lagi tidak hoki? Konyol kan? Maksud saya, hoki itu ada habisnya, tapi berkat akan selalu ada.
Jangan berpikir berkat itu sebagai sesuatu yang spektakuler. Berkat bukan hanya sesuatu yang besar dan menggembirakan. Bukan hanya uang, bukan hanya benda yang kita inginkan. Jauh lebih dalam dan lebih kaya daripada itu! Tuhan selalu menyediakan berkat yang tak pernah berkesudahan. Kalau kita bisa menarik nafas setiap pagi, bangun tidur dengan keadaan lengkap, bisa melihat orang-orang di sekitar kita kembali, apakah itu tidak bisa dikatakan berkat?
Banyak hal dalam hidup yang tidak kita sadari, dan sebenaranya itulah berkat. Pasti banyak momen dalam satu hari dimana kita bisa belajar hal-hal baru, yang kita tidak tahu jadi kita tahu. Itu juga merupakan berkat, bukan? Kita bisa mengenal orang baru, dan dari hidupnya kita bisa mendapat pelajaran berharga, berarti orang itu kan sudah menjadi berkat dan kita dapat berkat.
Pada dasarnya berkat itu selalu mengalir, asal kita peka merasakannya. Saya sadar, setiap hari dalam hidup saya, tidak ada hari yang tidak diberkati. Setiap waktu, akan selalu ada berkat. Unstoppable blessing!
Untuk itu saya juga belajar membagi berkat. Bukan hanya uang, lho. Waktu, tenaga, dan yang terpenting diri saya. Yang paling simple ya kalo ketemu orang di jalan, saya kasih senyum. Kalau sudah kenal saya sapa. Lalu, mengirimkan sms-sms yang berisi kata-kata motivasi bagi orang-orang sekitar. Menulis kata-kata motivasi tersebut di status facebook. Atau, mendengerkan curhat orang. Yah, sekalipun saya tidak bisa memberi masukan, yang pasti beban dia akan jadi lebih enteng setelah dibagi ke saya. Ya pastinya masih lebih banyak cara lah untuk membagi berkat yang tidak saya sebut. Salah satunya, dengan menulis. Atau teman-teman ada usul lain?
Satu lagi, yang terpenting. Tuhan kita memang selalu menyedikan berkat, tapi jangan sampai kita aji mumpung, mencari Tuhan hanya untuk dapat berkat. Itu tidak tahu diri namanya. Karena berkat terbesar dalam hidup kita justru adalah ketika kita bisa berhubungan langsung dengan Tuhan kita dan merasakan kehadiran-Nya dalam hidup kita, tanpa batas! So, be unstoppable to keep relationship with Him, and the unstoppable blessing will follow us automatically!
Jesus Bless Us!

0 komentar:
Posting Komentar