Dalam setiap detik dalam kehidupan kita, kita pasti selalu memerlukan kekuatan. Untuk menjalankan setiap aktivitas, mewujudkan rencana-rencana, memancarkan terang sebagai anak-anak Allah, dan untuk menghadapi segala persoalan hidup, kita membutuhkan kekuatan. Hal itu merupakan sebuah kenyataan yang sangat berbeda dengan natur kita, karena pada dasarnya tidak ada kekuatan manusia yang sempurna. Semenjak kejatuhan manusia ke dalam dosa, kita telah jatuh, kehilangan kemuliaan Allah, dan tidak memiliki kekuatan sejati. Itu sebabnya kita akan selalu merasa lelah ketika sudah memikul banyak tugas ataupun beban. Kita akan dengan mudahnya tertekan bila telah diperhadapkan dengan masalah.
Berita baiknya, sesuai status kita sebagai anak-anak Allah, kita mempunyai kekuatan sejati untuk kehidupan kita pribadi. Kekuatan inilah yang memampukan kita menjalani hidup beserta setiap masalah dan tuntutan yang ada di dalamnya. Kekuatan (kuasa) ini kita peroleh karena Kristus telah mati lalu bangkit bagi kita, Ia menang atas dosa. Kemenangan-Nya adalah kemenangan yang penuh kuasa, yang menegaskan pada dunia bahwa Ia-lah “The All Powerfull One”. Kekuatan yang berasal dari Kristus-lah yang merupakan kekuatan sejati bagi setiap orang percaya. Hal ini seumpama sebuah pistol yang diberikan kepada kita untuk bertahan dan menyerang musuh-musuh kita kapan saja dan dimana saja, namun kita juga memerlukan 5 (lima) peluru atau POWER utama agar pistol kita dapat terus digunakan.
- P = PRAY/Doa (Mazmur 145:18 ; Matius 7:7)
“TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan” (Mazmur 145:18)
“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu."
Jelas sekali dalam kehidupan iman Kristen, kita perlu untuk berdoa. Doa memungkinkan terjadinya pengenalan dan hubungan yang semakin intim antara kita dengan Allah dan Allah dengan kita. Doa dapat menjadi bentuk perwujudan cinta kita kepada Allah, yaitu dengan waktu yang kita berikan untuk-Nya dan penyerahan diri kita kepada-Nya, sekaligus sebagai sarana untuk kita meng-claim janji-janji yang telah Tuhan berikan bagi kita. Tentu saja kita harus secara teratur dan bahkan sesering mungkin berdoa kepada Tuhan, bukan hanya ketika kita mengalami persoalan atau masalah. Doa itu diibaratkan sebagai nafas kehidupan kita, yang amat sangat kita perlukan setiap waktu.
- O = OBEY/Taat (Yohanes 14:15,21,23)
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahku.” (Yohanes 14:15)
“Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh BapaKu dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diriKu kepadanya.” (Yohanes 14:21)
“Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu dan BapaKu akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan Dia.” (Yohanes 14:23)
Taat berarti tunduk, patuh, dan menjalankan sesuatu sesuai instruksi atau perintah yang telah diberikan. Namun, taat kepada Allah bukan hanya sebatas ketaatan yang kita tunjukkan kepada orangtua, guru, atau pimpinan kita. Taat kepada Allah selalu berbicara mengenai kasih kita kepada Allah. Jika kita mengasihi Allah, pasti kita menaati-Nya. Pasti selalu ada hubungan seperti ini, dan ketaatan yang tulus tidak akan pernah bisa dipisahkan dari kasih. Orang yang menaati hukum taurat dengan sempurna belum tentu atau mungkin sama sekali tidak mengasihi Allah dalam hidupnya, contohnya Saulus. Namun orang yang benar-benar mengasihi Allah, pasti akan hidup taat kepada Allah dan Firman-Nya, contohnya Paulus.
- W = WORSHIP/Penyembahan (Mazmur 34:2)
“Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu; puji-pujian kepadaNya tetap di dalam mulutku.”
(Mazmur 34:2)
Penyembahan atau worship yang dimaksud di sini bukan hanya sebatas lagu pengantar yang dinyanyikan sebelum Firman Tuhan di gereja, bukan hanya sikap atu euphoria kita dalam menyanyi/memuji dalam ibadah. Penyembahan disini berarti gaya hidup, penilaian seseorang terhadap sesuatu dan cara orang itu untuk memperlakukan sesuatu/seseorang tersebut. “Worship” kepada Allah merajuk kepada kata kerja (verb) bukan kata benda (noun). Penyembahan kepada Allah seharusnya menjadi “pekerjaan yang kita lakukan terus-menerus tanpa putus”. Penyembahan kepada Tuhan ditinjau dari akar katanya terbagi menjadi 2 (dua), yang pertama adalah “proskuneo” (berlutut sampai muka mencium tanah), yang digunakan untuk menggambarkan hubungan vertikal, yaitu antara kita dengan Allah. Bagaimana kita merendahkan hati kita di hadapan Allah, dan menyembah-Nya dengan mengakui kedaulatan-Nya. Yang kedua adalah “avodah”, yang berbicara secara horizontal mengenai hubungan kita dengan orang lain. Kaitan dari keduanya amat erat, dimana ketika kita menyembah Allah dengan benar, penyembahan itulah yang menjadi gaya hidup kita, sehingga penyembahan itu senantiasa kita hidupi dan terlihat nyata melalui sikap hidup kita.
- E = EVANGELIST (Yun. Euangelion)/Penginjilan (Matius 28:19-20)
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20)
Penginjilan berbicara mengenai tindakan dan aksi nyata yang dapat kita lakukan agar orang lain juga dapat mengenal Kristus dan merasakan anugerah keselamatan dari kematian dan kebangkitan-Nya. Penginjilan dapat membawa sukacita tersendiri bagi kita, karena kita tidak hanya menyimpan kebenaran dan kasih Yesus untuk diri kita sendiri, melainkan membaginya juga kepada orang lain. Namun, karena terlalu bersemangat menjangkau jiwa sebanyak-banyaknya, seringkali kita melakukan kesalahan dalam menginjili orang. Kita seperti salesman yang menjual suatu produk, dan harus mencari pembeli sebanyak-banyaknya, agar kita mendapat komisi besar. Kita memposisikan rekan yang kita injili sebagai target kita, Kristus dan keselamatan sebagai produk yang kita jual, sehingga secara otomatis kita-pun menjadi salesman. Sebenarnya, penginjilan berbicara lebih dalam. Setelah rekan yang kita injili kita menerima Kristus, kita juga harus terus mem-follow up dan menuntun perkembangan rohaninya. Kita harus peduli kepadanya dan terus membawanya ke dalam kesatuan keluarga Allah.
- R = READ/Baca (I Petrus 2:2, Mazmur 119: 9, 95, 105)
“Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan.” (1 Petrus 2:2)
“Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firmanMu.” (Mazmur 119:9)
“Orang-orang fasik menantikan aku untuk membinasakan aku; tetapi aku hendak memperhatikan peringatan-peringatanMu” (Mazmur 119:95)
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105)
Firman Tuhan merupakan pedoman dalam kehidupan setiap orang percaya. Alkitab sendiri mencatat fungsi dari “segala tulisan yang diilhamkan Allah” yaitu untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang di dalam kebenaran (2 Timotus 3:16). Alkitab yang merupakan Firman Tuhan adalah buku terkaya di dunia, dimana di dalamnya kita dapat menemukan teguran, didikan, kekuatan, penghiburan, dan banyak kisah-kisah tentang hubungan-hubunagn yang indah, seperti persahabatan Daud dengan Yonatan, pelayanan Yesus bersama para rasul, kebersamaan Paulus dengan jemaat, terkhususnya juga hubungan kasih Kristus dengan manusia.
Kelima peluru “POWER” ini harus diisi setiap waktu ke dalam diri kita, untuk memampukan kita menjalani hidup dengan penuh kekuatan, menghasilkan kemenangan dalam setiap perkara, dan terutama membuat nama Tuhan dipermuliakan. Soli Deo Gloria, Tuhan Yesus memberkati.

0 komentar:
Posting Komentar