Pages

Senin, 19 Desember 2011

Tuhan Lebih Dulu Melayani Kepadaku (Refleksi dari Buku: My Utmost for His Highest karya Oswald Chambers)

            Sebuah pagi yang sejuk dalam hari keenam masa ujian akhir semester, saya dibangunkan tepat pukul 5 pagi. Sebenarnya, saya sudah tersadar dari tidur sejak pukul 4, namun kemalasan saya menarik mata untuk terpejam lebih lama.
            Pagi ini saya mengonsumsi Santapan Rohani terbitan RBC Ministries, bahan penuntun saat teduh saya, yang berbicara soal damai—bagaimana anak-anak Allah dipanggil untuk menjadi pembawa damai sesuai Roma 12:8, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dengan perdamaian dengan semua orang!”
            Tetapi ada yang berbeda pagi ini, dimana biasanya setelah selesai bersaat teduh saya akan langsung berdoa dan mulai berjibaku dengan deretan tugas dan aktivitas yang harus saya kerjakan. Pagi ini saya duduk lebih lama di tempat tidur, dan setelah menutup Alkitab dan bahan renungan saya, saya tergerak untuk membaca sebuah buku renungan klasik karya Oswald Chambers, My Utmost for His Highest (Pengabdianku Bagi Kemuliaan-Nya). Buku ini baru saya pinjam dari seorang mahasiswa STT yang sedang praktek di gereja saya. Saya hanya membaca satu judul bacaan dalam buku itu (well, dalam buku itu ada 365 bacaan—satu bacaan untuk setiap hari), yang diberi judul “Marilah Berfokus Pada Tujuan!”
            Dikatakan Chambers, seringkali kita menolak untuk menaati panggilan Kristus, menolak untuk mengabdi bagi Allah, menolak untuk memberi terebaik kita bagi mulia-Nya, menolak untuk mengikut Yesus, karena kita lebih suka memikirkan diri kita sendiri: apa yang akan kita dapat, akan yang akan kita terima, apa yang akan menguntungkan kita, daripada memikirkan perkara-perkara Illahi. Sejujurnya natur manusia kita senantiasa memikirkan diri kita sendiri: dari saya, oleh saya, dan untuk saya—meskipun kita sering menutupinya dengan berbagai alasan, termasuk berdalih bahwa orang lainlah yang kita pikirkan!
            Saya tertegun membaca pernyataan Paulus, “....Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku maupun oleh matiku.” (Filipi 1:20). Sebagaimana seharusnya, semestinya, dan sewajarnya, Sang Mahamulia harus senantiasa dimuliakan, dalam segala hal, segala waktu, segala situasi, dan segala kondisi, apalagi dalam ranah ciptaan, termasuk manusia. Dialah pemilik kemuliaan, Dialah pencipta kemuliaan. Seharusnya, semestinya, dan sewajarnya, segala kemuliaan harus kembali dan terpusat hanya kepada-Nya!
Sesungguhnya yang terjadi pada zaman ini adalah—saya dan manusia-manusia lainnya, ciptaan yang dicipta Allah untuk melakukan pekerjaan baik (band. Efesus 2:10), untuk memenuhi bumi dan menguasainya (band Kejadian 1:28), yang harusnya melakukan segala sesuatu untuk memusatkan segala kemuliaan hanya kepada Sang Pencipta—mengalami pergeseran fokus.
Fokus yang harusnya adalah Allah, menjadi saya. Fokus yang tadinya adalah kesukaan Allah, menjadi kesukaan saya. Fokus yang tadinya adalah kepuasan Allah, menjadi kepuasan saya. Fokus yang tadinya kemuliaan Allah, menjadi kemuliaan saya!
Memang itulah natur manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, karena mereka ingin menyerupai Allah: ingin menjadi sama seperti Allah (band Kejadian 3:1-7) padahal mereka bukan Allah, hanyalah gambar dan rupa Allah.
Setelah manusia dipulihkan melalui perdamaian dengan Allah, seharusnya gambar diri manusia yang telah rusak, tujuan manusia yang telah hilang, dan fokus manusia yang telah bergeser juga turut mengalami pemulihan dan pembaharuan kembali kepada hakikat yang seharusnya. Namun tetap, natur kemanusiaan itu berlaku. Malahan, pemusatan kemuliaan Allah bergeser kepada pemusatan kemuliaan diri sendiri dalam sesuatu yang judulnya lebih rohani dan kedengarannya lebih suci, yaitu pelayanan.
Tidak jarang orang Kristen yang katanya melayani Allah, padahal sesungguhnya hanya melayani dirinya dan kehendaknya sendiri. Tidak jarang orang Kristen yang katanya menjadi Hamba Allah, tetapi tidak lebih dari menuruti keinginan dagingnya yang senantiasa mencari kemuliaan, kepuasan, dan pengakuan.
Well, saya dapat berkata demikian, karena salah satu dari “orang Kristen” yang seperti itu adalah saya sendiri! Saya akui, selama satu tahun ini, saya menjadi sama seperti si anak hilang. Selama satu tahun ini, saya keluar dari “rumah” Bapa saya, mengembara mencari kepuasan dan pengakuan diri, padahal apa yang saya cari tersebut tidak akan dapat saya temui pada siapapun atau dimanapun selain pada Bapa saya. Kasih yang sejati, pengakuan yang tertinggi, kepuasan yang tiada taranya hanya dapat dipenuhi oleh Bapa, dan hanya di hadirat Bapa. Itulah kebodohan saya, apa yang sudah ada tidak saya lihat dan tidak saya nikmati, tetapi lebih suka mencari di luar yang sudah ada, padahal tentu apa yang ada di luar tidak dapat menandingi apa yang sudah saya miliki. Tuhan, aku mau pulang kepada-Mu, kepada kesejatian aku melayani-Mu.


Hari ini Tuhan, aku mau berbalik kepada-Mu.
Aku terngiang bait sebuah lagu,
“Tuhan lebih dulu melayani kepada-Ku”.
Ini giliranku, Tuhan,
memberi hidup, diri, hati, waktu, untuk melayani Engkau.
Bukan hanya di gereja atau di mimbar depan,
melainkan dalam setiap titik Tuhan menempatkan aku.
Terimakasih, Tuhan.
Biarlah pengabdianku hanya bagi kemuliaan-Mu.

0 komentar:

Posting Komentar