Pages

Senin, 19 Desember 2011

Maka Jiwakupun Memuji-Mu: “Besar Setia-Mu!”

                Kemarin adalah hari ke-365 yang saya lalui di usia 15 tahun. Itu berarti, hari ini adalah hari pertama saya di usia ke-16. Sebelumnya saya berencana untuk menghabiskan hari terakhir saya di usia ke-15 dengan berdoa di hadapan Allah, sekaligus mengawali hari baru di usia yang juga baru. Namun kurang lebih pukul 23.00, setelah menemani adik saya tidur, saya juga tertidur—tanpa terlebih dahulu berdoa—mungkin karena kelelahan yang saya alami sepanjang hari tersebut.
                Saya dibangunkan setelah jam menunjukkan hampir pukul satu pagi, hanya kurang beberapa menit lagi. Saat itu pula saya menerima telepon yang berdering di handphone kecil saya. Telepon pertama datang dari tante saya, namun terputus tanpa sebab beberapa detik setelah saya angkat. Setelah itu telepon berdering lagi, namun datangnya dari nomor yang tidak ada di contact list saya. Ternyata, saya tahu dari suaranya, itu adalah Mama saya! Beliau mengucapkan selamat ulang tahun untuk saya, dan menyempaikan nasehat bahwa kedewasaan sudah harus mulai dibangun pada usia saya saat ini. Kami mengakhiri sesi telepon tersebut dengan berdoa bersama, bersyukur kepada Allah buat usia baru dan kesempatan baru yang masih diberikan-Nya.
                Kemudian Tante Priska yang tadi sudah lebih dulu menelepon—tapi tidak jadi—kembali menelepon dan juga mengucapkan selamat ulang tahun untuk saya. Ia sempat bertanya apa yang saya inginkan di usia yang baru ini, dan saya bilang kepadanya bahwa saya bahkan belum sempat berpikir untuk itu.
                Setelah selesai bertelepon dengan mereka, saya rindu untuk berterimakasih secara pribadi dan menikmati waktu-waktu pertama saya untuk berjumpa Tuhan, sebelum saya akan bertemu banyak orang pada pagi ini. Saya duduk diam di atas tempet tidur saya, kemudian saya menyalakan netbook milik Mama saya, dan memutar sebuah lagu yang membawa saya masuk ke dalam perenungan yang indah, “Besar Setia-Mu”.
                Sambil mendengar lagu tersebut, saya merenungkan dan melihat kembali tahun-tahun hidup saya selama di dunia ini. Dari saya lahir sampai saat ini, saya merenungkannya dan mengingatnya dengan maksud menyadari betapa besar penyertaan Allah dalam setiap detik dalam hidup saya. Saya tidak mampu berkata-kata pada saat itu, hanya airmata saya yang mengalir sebagai luapan dari hati saya. Saya menyadari betapa saya tak layak, betapa saya hina dan berdosa, namun kalau sampai 16 tahun lamanya Allah mau berjalan bersama saya, sungguh betapa besarnya kasih, penerimaan, dan kesetiaan yang Ia berikan untuk seorang Carmia!
                Saya membawa hati saya kepada-Nya pagi itu, saya hanya dapat bersyukur, berterimakasih, dan mempersilakan Allah berbicara kepada saya secara pribadi. Melalui perenungan, saya sadar betul Allah berbicara kepada saya dan menyampaikan firman-Nya dari Ulangan pasal 8, yang menggambarkan betapa besarnya kasih dan kesetiaan Tuhan selama menuntun bangsa Israel keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian. Mereka dibiarkan mengembara selama 40 tahun untuk merendahkan hati mereka dan membuat mereka hanya berfokus kepada Allah saja. Ia juga memberikan janji-Nya tentang hidup yang berkelimpahan kepada saya. Saya bersyukur bahwa sebagai permulaan perjalanan saya di usia yang ke-16, ada suatu message yang kuat dan indah yang diberikan Bapa untuk saya, yaitu betapa Ia menilai perjalanan saya bersama-Nya merupakan sebuah hal yang penting dan berharga, bukan hanya tempat tujuan yang akan saya capai nantinya.
                Sungguh, betapa besar setianya Allah dalam kehidupan saya!
                Saya mengakhiri perenungan dan doa-doa saya pagi itu pukul 03.30, dengan membuat dua komitmen baru untuk mengawali perjalanan saya. Yang pertama, saya hanya ingin memegang tangan Allah selama perjalanan saya dengan-Nya, bukan memandang pilar-pilar dunia. Yang kedua, karena Allah begitu setia dalam kehidupan saya, saya rindu untuk belajar menjadi anak-Nya yang juga setia dan taat, dan menyerahkan seluruh aspek hidup saya menjadi milik Allah sepenuhnya.
                Saya juga sempat meminta tiga hal dari Allah, yang pertama adalah supaya saya tetap bisa teguh memegang komitmen saya sepanjang perjalanan usia baru saya. Yang kedua adalah saya minta Tuhan berikan saya roh yang lebih lagi mengasihi adik saya, kemudian yang ketiga saya minta seorang Bapak, maksudnya disini adalah pendamping yang sepadan dengan Mama saya. Saya percaya Tuhan tak akan meninggalkan saya barang sedetikpun, Ia tetap ada bagi saya. Dan doa saya, saya pun menjadi anak yang tak pernah meninggalkan Bapa-Nya sedetikpun, yang tetap ada bagi Bapa-Nya. Soli Deo Gloria!

0 komentar:

Posting Komentar