Pages

Senin, 19 Desember 2011

Bukan Mauku, Melainkan Panggilan-Nya


              Menjadi seorang pelayan Tuhan sepenuh waktu bukanlah sesuatu yang mudah mengingat tantangan zaman ini. Seringkali orang tidak mengerti dan menyalah-artikan profesi hamba Tuhan. Dianggapnya hamba Tuhan ini bukan manusia, hanya perlu diam di gereja atau pastori untuk mengurusi hal-hal terkait program gereja, memperhatikan anggota jemaat, belajar Alkitab sampai khatam, dan semua hal yang berbau rohani harus dikuasainya. hamba Tuhan tidak boleh berbuat kesalahan, karena kalau mereka bersalah dikatakan tidak memberi teladan. Kalau mereka bergaul, misalnya nonton film, internetan, jalan-jalan ke mall, dan hal-hal berbau hiburan dianggap kurang rohani, terlalu duniawi dan suka bersenang-senang. Padahal, dibalik jas dan blazer kesayangan mereka, para hamba Tuhan sesungguhnya adalah manusia biasa, yang juga memiliki segala natur kemanusiaan, termasuk natur dosa.
 Dalam semua realitas kemanusiaannya, seorang hamba Tuhan terkesan lebih dihormati karena mereka rela menanggalkan diri mereka, meninggalkan kesenangan dan dunia mereka (seperti contoh yang telah digambarkan sebelumnya) dan pergi menjawab panggilan dan tugas Allah untuk hidupnya dan untuk kelangsungan hidup gereja Tuhan di muka bumi. Inilah esensi sesungguhnya yang harus dimiliki para pemuda remaja atau anak-anak Tuhan yang menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan. Bukan kemauan atau keinginan diri sendiri, melainkan harus Tuhan yang memanggil.
                Bayangkan seorang tuan rumah yang kaya, berduyun-duyun orang datang untuk melamar kerja sebagai pekayan di rumah baru tuan itu, namun bukan semua pelamar yang akan diterima, melainkan orang yang ditentukan atau dipilih langsung menurut kehendak dan kedaulatan sang tuan, mereka yang telah dipanggilnya secara khusus untuk mengabdikan hidup dalam pekerjaan dan pelayanan. Mereka yang tidak terpilih tidak bisa complain, karena bukan mereka yang menentukan bisa-tidaknya mereka bekerja di sana.
                Begitupula dalam panggilan anak-anak Tuhan untuk menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu, tidak semua orang dipanggil Tuhan untuk mengemban misi ini. Mereka yang tidak dipanggil sebagai full-timer, pastilah mereka dipanggil untuk bekerja pada bidang/profesi lain sesuai rencana Tuhan dalam hidup mereka.
                Tetapi zaman ini banyak orang pintar yang bodoh, yang bercita-cita menjadi seorang Hamba Tuhan sepenuh waktu hanya karena melihat permukaan yang gemilang. Katanya hamba Tuhan banyak uang, bisa naik mobil, pakai jas keren, padahal kerjanya cuma naik turun mimbar. Yah pendapat seperti ini memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena realitanya memang banyak juga hamba Tuhan—hamba Tuhan-an yang katanya “terpanggil” tetapi sesungguhnya mereka mengomersilkan jabatan yang mereka miliki (tiba-tiba saya ingat cover sebuah majalah rohani yang berjudul “Hamba Tuhan Kejar Setoran”). Ya, mereka bergelar hamba Tuhan, tetapi hatinya tetap hamba uang (maaf).Melihat realita seperti ini tentu banyak orang berduyun-duyun mau jadi hamba Tuhan. Apalagi sekolah teologi makin banyak dibuka, dan kata orang tes masuknya tidak sulit. Jujur, inilah yang membuat saya miris. Harusnya pelayan Tuhan, hamba Sang Pencipta, merupakan orang-orang terbaik, orang-orang berkualitas, orang-orang dengan beban yang sungguh, bukan orang yang bingung memilih fakultas atau tidak lulus tes di PTN, lantas banting setir masuk teologi. Nggak!
                Tak jarang juga orang beranggapan bahwa yang disebut “panggilan” hanyalah ketika seseorang menangis sesegukan di depan altar menyerahkan diri jadi pelayan Tuhan sepenuh waktu. Menurut saya tidak demikian, dimana banyak juga orang yang terpanggil jadi dokter, jadi arsitek, jadi guru, dan lain sebagainya. Entahlah, tetapi saya berpikir kalau panggilan dengan cita-cita tidaklah sama. Kadang, panggilan kita berbeda dengan apa yang kita cita-citakan, demikian sebaliknya. Saya pernah dengar kesaksian Pdt.Benny Solihin, dosen Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang yang tadinya sudah hidup enak dengan gelar sarjana ekonominya. Begitupula dengan Bapak Mangapul Sagala, rektor STT Trinity Parapat yang tadinya sudah insinyur. Bagi dunia mungkin orang semacam ini dibilang bodoh, melepas gelar demi menjadi abdi Allah. Namun, itulah panggilan! Saya percaya mereka yang telah menjawab panggilan Allah pasti akan diperhitungkan di dalam kekekalan.
                Jujur, saya pernah merasa terpanggil mengabdikan diri di ladang Tuhan. Sampai sekarang saya masih mendoakan, tetapi saya takut. Bukan takut miskin, melainkan belum siap mental. Bagi saya perkara tersebut terlalu besar daripada apa yang saya tanggung. Namun saya menyerah kepada Tuhan ketika seminggu berturut-turut saya tidak dapat tidur dan terus ingin menangis ketika memikirkan masalah jadi hamba Tuhan ini. Saya nggak mau berdoa, tetapi kata-kata dan airmata keluar dengan sendirinya. Pernah suatu malam saya melawan Tuhan. Saya langsung tidur, tanpa berdoa terlebih dahulu. Namun setiap satu jam saya terbangun, dan akhirnya saya menyerah dan berbalik kepada Tuhan pukul 5 pagi.
                Sampai saat ini saya masih terus bergumul. Apakah benar Tuhan mau saya jadi hamba-Nya sepenuh waktu. Jujur, itu bukanlah cita-cita saya. Bukan maunya saya. Saya pasti maunya lari seperti Yunus. Tetapi kuasa dan kasih Allah yang begitu besar telah dilimpahkan-Nya kepada saya, dengan alasan apa lagi saya dapat menolak? Justru anugerah besar bagi saya apabila dipanggil-Nya.
                Bagi saya, jadi full-timer atau tidak bukan lagi suatu persoalan. Saya menyerahkan diri saya kepada Allah dan masa depan saya Ia yang genggam. Saya siap Tuhan pakai jadi hamba-Nya di bidang manapun, sekalipun bidang itu saya tidak suka atau tidak kuasai saya percaya Tuhan yang mampukan. Yang perlu saya kembangkan adalah sikap hati seorang hamba seperti apa yang diucapkan Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu..”.
                Inilah komitmen saya kepada Allah, saya akan menjadi hamba Allah. Baik hamba Allah yang berkhotbah di mimbar maupun ketok palu di meja hijau. Baik hamba Allah dengan stetoskop maupun dengan kapur tulis di tangan. Sungguh, hidupku milik-Nya. Mau jadi apa aku, suka-suka pemilikku.

Berikan aku kepekaan, ya Allah, untuk mendengar panggil-Mu
Berikan aku kesediaan, ya Allah, untuk menjawab ya tanpa ragu
Terpujilah Engkau, Allahku
Biarlah yang terbaikku hanya bagi kemuliaan-Mu
               


Keterangan:
Ditulis pertama kali tanggal 22 Maret 2011, namun baru dapat selesai tanggal 12 Desember 2011.

0 komentar:

Posting Komentar