Pages

Senin, 19 Desember 2011

Kanak-Kanak VS Dewasa


Di kitab I Korintus, dalam salah satu pasalnya—yang bagi saya layak masuk “the most favourite chapter”—di Alkitab, berkata bahwa ketika seseorang masih kanak-kanak, ia berkata-kata seperti kanak-kanak, merasa seperti kanak-kanak, dan berpkir seperti kanak-kanak, sampai ketika seseorang tersebut sudah menjadi dewasa, ia meninggalkan sifat kanak-kanak itu (band I Kor 13:11).
                Wajar memang. Si Adi kecil yang ingusnya masih belepotan itu, yang mengeja M-A-M-A saja belum benar, pastilah bersikap, berpikir, dan berbicara seperti anak-anak. Seperti Adi kecil, bukan seperti Bapak Adi. Entah jari-jemarinya bebas melucuti tanah tanpa takut kotor, entah mainan yang dimasukkan ke dalam mulutnya, ataupun tangisan yang meluncur cepat bak roket apabila apa yang dimintanya tidak dapat ia peroleh dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Itu kan hanya beberapa contoh, dan kita semua percaya masih ada lebih dari sembilan puluh tindakan “kekanak-kanakkan” lainnya yang mungkin dilakukan oleh si Adi kecil. Ya iyalah, namanya juga anak-anak.
                Tetapi, anak-anak dari segi siapa?
                Tentu kita bisa katakan kalau tindakan si Adi kekanak-kanakkan, karena kita lebih dewasa daripadanya. Karena kita sudah pernah terlebih dahulu menjadi sepertinya. Ingatkah kita waktu dulu kita menceburkan diri ke selokan tanpa rasa jijik demi mengambil bola kita yang tergelinding jatuh? Kalau sekarang kita lihat anak tetangga berbuat seperti itu pasti kebanyakan dari kita akan menggumam, “dasar anak kecil jorok, bola udah jatuh ke got masih diambil juga”
                Ya, itulah anak-anak. Mereka asli, tetapi mereka tidak tahu bahwa keaslian mereka itu merupakan sebuah hal yang remeh dalam kacamata kita. Bagi kita, tindakan Adi adalah tindakan yang kekanak-kanakkan. Tetapi bagi Adi, apa itu kekanak-kanakkan? Dia ya dia. Adi ya Adi. Mungkin, bagi Adi kecil, mengambil mainannya sendiri yang jatuh ke selokan merupakan tindakan heroik yang bagi kita setara dengan aksi seorang yang berhasil mengungkap busuknya pelaku tindak korupsi? Guess what, kacamata anak kecil yang dulu juga pernah melekat di mata kita kini jarang lagi kita pahami.
                Kalau kita mengaca dan mengembalikan semua tingkah Adi kecil kepada diri kita sendiri, kita dapat sampai kepada suatu titik refleksi. Saat ini, di usia “dewasa” kita, kita tidak lagi mengenakan sifat anak-anak. Kita sudah dewasa! Kita bicara keren-keren, pakai bahasa bak para dewa. Kita makan makanan yang keren, angka nol dibelakangnya minimal empat digit. Kita pakai baju keren, jas keren, dasi keren, semua yang keren-keren. Bertelepon bisa sekali tiga, padahal telinga hanya punya dua. Bikin janji meeting sehari bisa sampai tiga puluh kali, padahal stok waktu hanya dua puluh empat. Keren, hebat, jago, dewasa.
                Dewasa bagi siapa?
                Kembali lagi ke si Adi. Adi kecil selalu tidak akan mengerti kalau ia melakukan sesuatu yang kekanak-kanakkan, kecuali suatu saat nanti ketika ia sudah melewati tahap itu. Setelah lewat masa kanak-kanak si Adi, dia baru akan sadar kalau dia dulu kanak-kanak. Mungkin saaat itu dia hanya bisa tersenyum malu sambil mengenang saat-saat waktu dia jatuh dari pohon ketika mau curi mangga tetangga.
Hal yang sama, berlaku juga pada kita. Kita tidak akan tahu kita kanak-kanak, sampai nanti kita melewati masa kanak-kanak itu. Sekarang waktu berdasi kita mungkin juga tersenyum malu ketika ingat waktu SD dulu kita pernah iseng menyingkap rok teman perempuan kita. Nanti waktu kakek-kakek, juga mungkin kita akan tersenyum ketika ingat dulu waktu berdasi kita pernah menghabiskan uang hanya untuk membeli telepon genggam yang lebih dari jumlah telinga!
See, selalu ada kedewasaan setelah kekanak-kanakkan. Kalau misalnya dipandang dari kacamata Pribadi yang lebih jauh “dewasa” dari kita, yaitu Tuhan sendiri. Bagaimana Tuhan melihat kita? Lucu mungkin di pemandangan-Nya, anak-anak—Ku hanya berputar-putar menghabiskan waktu mereka dengan ratusan jadwal kerja, padahal yang terbaik sudah Kusiapkan bagi mereka.
Atau mungkin, Tuhan tersenyum melihat tingkah kita yang sering meraung-raung ketika apa yang kita minta tidak langsung diberikan-Nya? Bagaimana dengan kesempatan lain dimana kita minta upah setelah melayani-Nya, seperti dulu juga kita minta jatah jajan waktu disuruh Mama beli gula di warung? Atau kita juga iri ketika ada orang lain atau petobat baru yang sepertinya lebih disayang Tuhan daripada kita? Yah, bandingkan saja kalau dulu kita ngambek sama Mama kita, “Mama kan lebih sayang Abang!” dan klimaksnya, kita juga bisa menolak perintah Tuhan atau melawan Tuhan selayaknya kita melawan orangtua kita waktu kita menolak disuruh mandi sore.
Jadi, kita ini kanak-kanak atau dewasa?

Mari berpikir, mari tertawa.
Mari berefleksi, mari berdoa.

               

0 komentar:

Posting Komentar