Ayah, Ayah
Bapak tua itu siapa
Tidur di jalan karena tak punya kamar
Tiada berbaju dan sepertinya belum makan
Ayah, Ayah
Mengapa dia melihat ke arah kita
Mengapa tangannya selalu terbuka
Mengapa sendu wajahnya seakan tak pernah tertawa
Mengapa orang-orang disana mencibirnya
Dan melempar koin sembarangan ke arahnya
Seolah habis menyaksikan pertunjukan lumba-lumba
Padahal kan Bapak itu manusia seperti kita
Ayah, Ayah
Aku kasihan padanya
Dia tidak seperti kita
Dia tak punya jas hitam seperti punya Ayah
Dia tak menggandeng wanita seperti Ayah menggandeng Bunda
Apabila pergi berjumpa dengan atasan Ayah di istana negara
Ayah, Ayah
Mengapa tidak Ayah bagi uang kita kepadanya
Mengapa tidak Ayah hadiahkan benda-benda kita untuknya
Kelihatannya ia tidak pernah menggenggam harta
Berbeda dengan kita yang selalu punya apa saja
Karena kata Ayah, uang negara merupakan uang Ayah juga
Jadi bisa Ayah ambil dan gunakan kapan saja
Ayah, Ayah
Seandainya Ayah bawa dia ke tempat Ayah bekerja
Akankah rekan-rekan Ayah bersedia
Memberi kamar tidur sederhana untuknya?
Tolong tanyakan juga pada kolega Ayah
Siapa tahu bisa diberikan rumah kecil untuk tempat tinggalnya
Tapi apabila mereka tidak bisa menerimanya
Biarlah Bapak itu kita ajak ke rumah kita
Biar ia tidur di kamarku saja
Tenang saja Ayah, tak akan kubiarkan ia menginjak ruang kerja Ayah
Karena sesuai kata-kata Ayah
Banyak berkas yang tidak boleh diketahui rakyat yang Ayah taruh disana
Dan apabila berkas-berkas itu terbaca
Ayah terancam tinggal di penjara
Ayolah, Ayah
Aku sungguh kasihan kepadanya
Mengapa hidupnya seolah amat hina
Padahal aku tahu dia juga berharga
Ayah, janganlah tolak permohonanku untuk menolongnya
Karena kalau Ayah tidak menolongnya, aku jadi bertanya-tanya
Mengapa Ayah tak iba kepadanya
Apakah Ayah takut kekurangan harta
Atau mungkin Ayah telah mati rasa
Seandainya Ayahku adalah Bapak Pejabat,
Kan ku serukan isi hatiku ini kepadanya

0 komentar:
Posting Komentar